Hikmah Khatib Memegang Tongkat Saat Khutbah Jumat
Ada kemungkinan dari beberapa jamaah bertanya-tanya mengenai dalil atau mengapa khatib yang khutbah di masjid-masjid yang berhaluan Nahdlatul Ulama’ memegang tongkat saat khutbah. Jika tidak dikaji lebih lanjut, mungkin hal tersebut akan membuat prasangka-prasangka yang berbeda. Terlebih ada beberapa kalangan yang mempersoalkannya. Berikut adalah kajian dari beberapa literatur yang kami dapatkan tentang khatib yang memegang tongkat saat menyampaikan khutbah jumat.
Jumhur ulama’ dalam bidang fikih berpendapat bahwa memegang tongkat dengan tangan kiri saat khutbah hukumnya adalah sunnah. Dasar yang digunakan adalah sebagai berikut.
- Penjelasan Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm (Juz I, Halaman 272)
قَالَ الشَّافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى بَلَغَنَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ اِعْتَمَدَ عَلَى عَصَى. وَقَدْ قِيْلَ خَطَبَ مُعْتَمِدًا عَلَى عُنْزَةٍ وَعَلَى قَوْسٍ وَكُلُّ ذَالِكَ اِعْتِمَادًا. أَخْبَرَنَا الرَّبِيْعُ قَالَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِيُّ قَالَ أَخْبَرَناَ إِبْرَاهِيْمُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَطَاءٍ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا خَطَبَ يَعْتَمِدُ عَلَى عُنْزَتِهِ اِعْتِمَادًا
“Imam Syafii RA berkata: Telah sampai kepada kami (berita) bahwa ketika Rasulullah SAW berkhuthbah, beliau berpegang pada tongkat. Ada yang mengatakan, beliau berkhutbah dengan memegang tongkat pendek dan anak panah. Semua benda-benda itu dijadikan tempat bertumpu (pegangan). Ar-Rabi’ mengabarkan dari Imam Syafi’i dari Ibrahim, dari Laits dari ‘Atha’, bahwa Rasulullah SAW jika berkhutbah memegang tongkat pendeknya untuk dijadikan pegangan”
- Hadits dalam Kitab Sunan Abi Dawud (Halaman 824)
عَنْ شُعَيْبِ بْنِ زُرَيْقٍ الطَائِفِيِّ قَالَ شَهِدْناَ فِيْهَا الجُمْعَةَ مَعَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ مُتَوَكِّئًا عَلَى عَصَا أَوْقَوْسٍ
“Dari Syu’aib bin Zuraidj at-Tha’ifi ia berkata: ‘Kami menghadiri shalat Jumat pada suatu tempat bersama Rasulullah SAW. Maka beliau berdiri berpegangan pada sebuah tongkat atau busur”
- Komentar Abdurrozaq Ash-Shan’ani dalam kitab Subulussalam (Juz II, Halaman 59)
Abdurrozaq As-Shan’ani merupakan ulama’ ahli Hadits dan terkenal Tsiqah. Beliau merupakan salah satu guru dari Ahmad bin Hanbal (Imam Hambali). Beliau memberikan komentar bahwa hadits dalam Sunan Abi Dawud tersebut menjelaskan tentang sunnahnya khatib dalam memegang pedang atau semacamnya ketika menyampaikan khutbah.
- Penjelasan dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din (Halaman 180)
فَإِذَا فَرَغَ المُؤَذِّنُ قَامَ مُقْبِلاً عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ لاَ يَلْتَفِتُ يَمِيْنًا وَلاَشِمَالاً وَيُشْغِلُ يَدَيْهِ بِقَائِمِ السَّيْفِ أَوْ العُنْزَةِ وَالمِنْبَرِ كَيْ لاَ يَعْبَثَ بِهِمَا أَوْ يَضَعَ إِحْدَاهُمَا عَلَى الآخَرِ
“Apabila muadzin telah selesai (adzan), maka khatib berdiri menghadap jama’ ah dengan wajahnya. Tidak boleh menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan kedua tangannya memegang pedang yang ditegakkan atau tongkat pendek serta (tangan yang satunya memegang) mimbar. Supaya dia tidak mempermainkan kedua tangannya. (Kalau tidak begitu) atau dia menyatukan tangan yang satu dengan yang lain”
Dari keterangan tersebut, dianjurkan memegang tongkat pada saat berkhutbah adalah untuk mengikat hati (agar berkonsentrasi dan tidak memainkan tangan). Sehingga khatib disunnahkan memegang tongkat saat berkhutbah, selain mengikut jejak Rasulullah Saw. juga agar khatib lebih berkonsentrasi dalam menyampaikan khutbahnya. Wallahua’lam.